TANGGUNG JAWAB AYAH DALAM MENDIDIK ANAK

Gambar : Ayahku Pahlawanku
Oleh : Imron Husnussairi, ST *)
- Pendahuluan
Orang tua adalah salah satu asbab keberadaan kita di dunia. Mereka adalah ayah dan ibu. Dari tinjauan biologis, adanya anak adalah buah ‘investasi’ dari ayah dan ibu. Artinya, hal ini menyiratkan bahwa sejak awal proses awal kejadian manusia ayah dan ibu adalah yang bertanggungjawab.
Berbicara tentang ‘institusi’ keluarga, yang kelak dimintai pertanggungjawaban oleh Allah SWT adalah ayah (suami, kepala rumah tangga). Bertanggungjawab tidak hanya keberlangsungan perjalanan biduk di bahtera, tetapi juga menentukan arah dalam perjalanan biduk untuk menyeberangi bahtera dengan benar.
Penulis lebih memilih menggunankan diksi tanggung jawab ayah dalam mendidik anak, karena meskipun Al Ummu Madrasatul Ulaa, tetapi yang bertanggungjawab atas urusan pendidikan anak (bahkan keluarga) adalah sosok ayah (suami/kepala keluarga).
QS AT-Tahrim ayat 6
“Hai orang-orang yang beriman, peliharalah dirimu dan keluargamu dari api neraka yang bahan bakarnya adalah manusia dan batu; penjaganya malaikat-malaikat yang kasar, keras, dan tidak mendurhakai Allah terhadap apa yang diperintahkan-Nya kepada mereka dan selalu mengerjakan apa yang diperintahkan”
Ayat di atas menyiratkan bahwa kelak yang akan ditagih pertanggungjawaban semua urusan -apalagi urusan pendidikan- keluarga- adalah ayah (suami/kepala keluarga).
- Tanggung Jawab Ayah dalam Mendidik Anak
- Penentu “Kurikulum” pendidikan keluarga.
Grand Desain “kurikulum” pendidikan keluarga adalah tanggung jawab seorang ayah. Arah dan warna keluarga yang menentukan adalah seorang ayah. Kurikulum yang diterapkan dalam sebuah keluarga akan menentukan karakter keluarga, yang akan tercermin dalam kebiasaan keluarga sehari-hari. Inilah yang menjadi pijakan anak untuk berproses membentuk karakter anak. Ha-hal mana yang dipentingkan dan “diutamakan” dalam kehidupan masa depan anak, di sinilah proses terpenting (meskipun dalam proses berikutnya anak akan berinteraksi dan bersinggungan, minimal anak sudah memiliki pondasi dasar yang ditanamkan kurikulum keluarga sejak dini).
- Mengajarkan Akidah kepada Anak
Ayat-ayat Al-Qur’an dalam aspek spiritual merupakan aspek yang paling banyak yang diajarkan oleh para nabi kepada anaknya. Seperti kisah nabi Ibrahim as dan nabi Ya’kup dalam pengaaran akidah kepada anaknya.
Q.S Al-Baqarah (2): 132-133
dan Ibrahim telah Mewasiatkan Ucapan itu kepada anak-anaknya, demikian pula Ya'qub. (Ibrahim berkata): "Hai anak-anakku! Sesungguhnya Allah telah memilih agama ini bagimu, Maka janganlah kamu mati kecuali dalam memeluk agama Islam". Adakah kamu hadir ketika Ya'qub kedatangan (tanda-tanda) maut, ketika ia berkata kepada anak-anaknya: "Apa yang kamu sembah sepeninggalku?" mereka menjawab: "Kami akan menyembah Tuhanmu dan Tuhan nenek moyangmu, Ibrahim, Ismail dan Ishaq, (yaitu) Tuhan yang Maha Esa dan Kami hanya tunduk patuh kepada-Nya
Ayat di atas menunjukkan betapa sayangnya para nabi terhadap anak-anak mereka terlebih dalam hal agama dan betapa pentingnya agama dalam kehidupan. Dalam ayat tersebut juga mengandung makna pengajaran akan pengetahuan dan pengenalan terhadap Allah SWT, Rasul, dan pemimpin tanpa adanya fanatik terhadap agama nenek moyang mereka. Dalam kisah Luqman dan anaknya, pendidikan akidah merupakan pendidikan pertama yang harus disampaikan ayah kepada anaknya.
Begitu juga dalam kisah nabi Nuh ketika anaknya hampir tenggelam ketika datang banjir, mengajak anaknya untuk naik ke kapal dan tidak mengikuti orang-orang yang tidak beriman kepada Allah SWT.
- Mengajarkan Sya’riah/peribadahan
Tentang kewajiban ayah mendidik anak di bidang peribadahan misalnya tercantum dalam
QS Thaha ayat 132
“Artinya: “Dan perintahkanlah kepada keluargamu mendirikan shalat dan bersabarlah kamu dalam mengerjakannya. Kami tidak meminta rezki kepadamu, kamilah yang memberi rezki kepadamu. dan akibat (yang baik) itu adalah bagi orang yang bertakwa.” (Q.S. Thaha (20): 132)
- Mengajarkan Akhlaq kepada Anak
Hadits Riwayat Al-Baihaqi
“Innamal Bu’itstu Li utammimma Makaarimal Ahlaqan”
"Sesungguhnya aku diutus hanya untuk menyempurnakan akhlak yang mulia." (HR. Al-Baihaqi)
Hadits di atas, mengindikasikan bahwa seorang ayah bertanggung jawab mengajarkan akhlaq anaknya.
Berapa akhlaq yang sekarang harus kembali diperkuat dicontohkan oleh ayah kepada anak diantaranya;
- Pertama, berperilaku santai dan baik kepada orang tua sebagaimana dalam Q.S. Al-Isra’ ayat 23
Artinya: “Dan Tuhanmu telah memerintahkan supaya kamu jangan menyembah selain Dia dan hendaklah kamu berbuat baik pada ibu bapakmu dengan sebaikbaiknya. jika salah seorang di antara keduanya atau Kedua-duanya sampai berumur lanjut dalam pemeliharaanmu, Maka sekali-kali janganlah kamu mengatakan kepada keduanya Perkataan "ah" dan janganlah kamu membentak mereka dan ucapkanlah kepada mereka Perkataan yang mulia.” (Q.S. Al-Isra’ (17): 23)
- Kedua, merendahkan diri di hadapan orang tua dan mendoakan orang tua seperti dalam Q.S. Al-Isra’ ayat 24.
Artinya: “Dan rendahkanlah dirimu terhadap mereka berdua dengan penuh kesayangan dan ucapkanlah: "Wahai Tuhanku, kasihilah mereka keduanya, sebagaimana mereka berdua telah mendidik aku waktu kecil.” (Q.S. AlIsra’ (17): 23
- Mengajarkan Al-Qur’an kepada Anak”
Tanggung jawab seorang ayah wajib mengajarkan Al-Qur’an kepada anaknya (minimal dalam hal qiroah-membaca) dalam rangka melanjutkan misi kenabian nabi Muhammad SAW.
Q.S. Ar-Ra’du ayat 30
“Demikianlah, Kami telah mengutus kamu pada suatu umat yang sungguh telah berlalu beberapa umat sebelumnya, supaya kamu membacakan kepada mereka (Al Quran) yang Kami wahyukan kepadamu...”
- Pengajaran dalam bidang sosial
Dalam kisah Luqman, pengajaran yang disampaikan kepada anak juga terkait bidang sosial, seperti amar ma’ruf nahi mungkar, Surat Luqman ayat 17
Artinya: “Hai anakku, dirikanlah shalat dan suruhlah (manusia) mengerjakan yang baik dan cegahlah (mereka) dari perbuatan yang mungkar. (Q.S. Luqman (31): 17)
Menyuruh manusia untuk mengerjakan yang ma’rûf yaitu yang baik menurut akal dan agama, seperti berakhlak mulia dan berbuat baik, memperbaiki diri dan mengajak kepada peradaban yang baik. Sedang mencegah dari perbuat munkar yaitu mencegah diri sendiri dan orang lain untuk tidak berbuat maksiat, berbuat yang diharamkan oleh agama atau yang buruk menurut logika.
- Menjadi sosok inspiratif bagi anak
Seorang ayah harus mampu menjadi figure inspirasi bagi anak;
- Sosok yang bisa memberikan contoh bimbingan dalam memahami dan menjalankan agama
- Sosok demokrastis, yang terbiasa berdiskusi dengan anak, seperti dicontohan Nabi Ibrahim Q.S. Ash-Shaaffat ayat 102.
Artinya: “ Maka tatkala anak itu sampai (pada umur sanggup) berusaha bersama-sama Ibrahim, Ibrahim berkata: "Hai anakku Sesungguhnya aku melihat dalam mimpi bahwa aku menyembelihmu. Maka fikirkanlah apa pendapatmu!" ia menjawab: "Hai bapakku, kerjakanlah apa yang diperintahkan kepadamu; insya Allah kamu akan mendapatiku Termasuk orang-orang yang sabar.” (Q.S. Ash-Shaaffat (37 ): 102)
- Tempat keluh kesah permasalahan anak.
Dalam Al-Qur’an Surat Yusuf 4-5
Artinya: “Ingatlah, ketika Yusuf berkata kepada ayahnya: "Wahai ayahku, Sesungguhnya aku bermimpi melihat sebelas bintang, matahari dan bulan; kulihat semuanya sujud kepadaku. . Ayahnya berkata: "Hai anakku, janganlah kamu ceritakan mimpimu itu kepada saudarasaudaramu, Maka mereka membuat makar (untuk membinasakan) mu. Sesungguhnya syaitan itu adalah musuh yang nyata bagi manusia." (Q.S. Yusuf (12):4-5)
- Memahami Keinginan Anak
Dalam hal ini, dapat dilihat dari kisah nabi Syu’aib ketika mendengar cerita salah satu putrinya tentang seorang pemuda yang membantu anaknya untuk mengambil air. Anaknya pun menceritakan bagaimana sikap dan sifat pemuda yang telah membantunya tersebut dan meminta pada ayahnya untuk menjadikan pemuda bekerja pada keluarganya. Nabi Syu’aib memahami adanya kekaguman anaknya terhadap pemuda tersebut, sehingga Nabi Syu’aib pun ingin menikahkan salah satu putrinya dengan pemuda tersebut, yaitu nabi Musa. Q.S al-Qashash ayat 27
Artinya: “Salah seorang dari kedua wanita itu berkata: "Ya bapakku ambillah ia sebagai orang yang bekerja (pada kita), karena Sesungguhnya orang yang paling baik yang kamu ambil untuk bekerja (pada kita) ialah orang yang kuat lagi dapat dipercaya". (Q.S alQashash (28): 27)
Ayat di atas mengisyaratkan bahwa sebagai seorang ayah harus peka, harus memahami keinginan anaknya, memahami perasaan anak, emosi anak dan sikap anak serta perkataan anak.
- Mendoakan Anak
Mendoakan merupakan tanggung jawab dan kewajinam yang tidak boleh ditinggalkan oleh orang tua terhadap anaknya. Seperti doa yang dipanjatkan oleh Nabi Ibrahim as dalam Q.S. AshShaaffat ayat 100
Artinya:“Ya Tuhanku, anugrahkanlah kepadaku (seorang anak) yang Termasuk orang-orang yang saleh. (Q.S. Ash-Shaaffat (37 ): 100)
- Kesimpulan
Untuk mencetak anak menjada generasi yang berkarakter kuat, cerdas, sholeh yang menjadi penyejuk bagi kedua orang tuanya, banyak hal yang harus dilakukan oleh ayah. Ayah mempunyai peran central dan porsi besar dalam pendidikan anak. Peran ayah meliputi peran sebagai fasilitator dalam pendidikan anak, menjadi penentu kurukilum keluarga, menjarakan akidah, peribadahan, memberikan contoh akhlaq, dan harus menjadi sosok inspiratif dan wajib mendoalan anak.





