SEORANG GURUKAH KITA ?
(SEBUAH RENUNGAN)

By Administrator 03 Sep 2025, 22:10:43 WIB pendidikan
SEORANG GURUKAH KITA ?

Gambar : Dosen Mengajar


Oleh : Imron Husnussairi, ST *)

Siswa adalah juga manuasia yang juga memiliki mata, telinga, pikiran dan hati. Artinya siswa juga dapat melihat apa yang dilakukan guru, siswa juga dapat mendengar apa yang dikatakan guru, siswa juga dapat berpikir, menilai dan merasakan dan memberikan penilaian kepribadian terhadap seorang guru. Sekeras apapun guru meneriakkan tentang kedisiplinan, tidak akan berpengaruh kepada siswa, ketika  guru tersebut  tidak kunjung bisa disiplin. Sekuat apapun guru menegakkan peraturan, itupun tidak akan berimbas kepada siswa, ketika seorang guru juga seringkali melanggar aturan. Sekencang apapun guru menjaga attitude dan moral siswa, itu juga tidak akan bisa efektif ketika guru seringkali tidak bisa dijadikan contoh attitude dan referensi moral yang benar dan baik bagi siswa.

Dalam sebuah kisah diceritakan, pada suatu ketika Mahatma Gandhi (seorang mahaguru yang juga tokoh pergerakan India) didatangi oleh seorang bapak beserta anaknya yang kira-kira seusia kelas 4 SD. Keluhan yang diutarakan dari bapak tadi kepada Mahatma Gandhi adalah bahwa anaknya yang masih kecil tersebut suka sekali mengkonsumsi gula. Bahkan anaknya bisa mengkonsumsi gula tiap hari tidak kurang dari 1 kilogram. Sungguh berbahaya memang. Berbagai jurus nasehat telah Ia kerahkan untuk memberikan pengertian kepada anaknya, bahwa kebiasaan itu kurang baik dan akan mengganngu kesehatan dikemudian hari. Itulah yang membuat bapak tadi terpaksa meminta bantuan kepada seorang Mahatma Gandhi. Mendengar keluhan bapak tadi, Mahatma Gandhi hanya mengatakan,”Bapak, kembalilah satu bulan lagi bersama anak bapak ini”. Dengan terheran-heran bapak dan anak itupun pulang dengan tangan hampa.

Singkat cerita, tepat satu bulan berselang, bapak dan anak kembali datang ke rumah Mahatma Gandhi. Tanpa banyak cakap, Mahatma Gandhi langsung menemui  mereka dan memanggil si anak seraya menasihati, “Wahai anakku, memakan gula yang berlebihan itu berbahya untuk kesehatanmu. Mulai sekarang berhentilah memakan gula yang berlebihan”. Hanya itu yang dikatakan Mahatma Gandhi kepada si anak. Setelah itu, bapak dan anak itupun disuruhnya pulang.

Satu bulan berikutnya, tanpa disertai sang anak, bapak tadi kembali mendatangi rumah Mahatma Gandhi untuk memberikan kabar yang sangat ajaib, yakni sepulang dari rumah Mahatma Gandhi satu bulan yang lalu, anaknya tidak lagi mengkonsumsi gula berlebihan.

“Wahai Guru, gerangan apa yang membuat anakku, begitu taat dan selalu ingat nasihatmu ?”, tanya bapak tadi.

“Ketahuilah wahai Bapak, bahwa ketika engkau berdua datang pertama kalinya ke rumah ini, saat itu aku juga masih suka mengkonsumsi gula. Atas dasar permintaan bapak, aku berjanji  untuk berpuasa tidak makan gula dan berdo’a kepada Tuhan agar diberikan kekuatan atas nasihat-nasihatku. Maka engkau berdua aku suruh kembali satu bulan lagi,  ketika aku telah benar-benar tidak makan gula. Karena bagiku, nasihat tidak akan pernah menyentuh hati kepada orang yang dinasihati manakala kita sendiri tidak mampu menjadi seperti apa yang kita nasihatkan”, Mahatma Gandhi menjelaskan.

Mengambil hikmah dari kita di atas, bahwa untaian nasihat akan menjadi sangat Power Full apabila orang yang memberikan nasihat tadi benar-benar bisa menjadi atau sesuai dengan apa yang dinasihatkannya. Yang sering terjadi dalam dunia pendidikan adalah;

Guru seringkali kesulitan memberikan motivasi kepada siswa untuk giat belajar dan membaca, karena ternyata guru sendiri juga malas membaca dan menambah pengetahuan. Model, materi dan cara mengajar kita dari tahun ke tahun selalu sama, padahal perkembangan budaya selalu berubah.

Guru sulit membiasakan siswa untuk tepat waktu. Hal ini karena ternyata guru sendiripun sering terlambat.

Guru kesulitan memberikan tugas-tugas kepada siswa, karena ternyata guru sendiri tidak total melaksanakan tugas-tugasnya sebagai guru.

Guru sering kali kesulitan untuk mengkondisikan siswa agar betah dikelas, hal ini karena ternyata guru sendiri kurang betah di kelas, seringkali meninggalkan kelas tanpa alasan yang masuk akal.

Guru sering kali merasa kurang dan bahkan tidak dihargai siswanya, hal ini karena ternyata guru tersebut tidak mau menghargai dirinya sendiri dengan cara membangun kepribadian dan karakter yang patut dijadikan teladan siswanya.

Guru sangat sulit membiasakan siswa berseragam rapi, karena ternyata guru sendiripun sangat sulit untuk menepati aturan berseragam.

Guru kesulitan membiasan siswa untuk segera sholat jama’ah (dzuha dan dzuhur misalnya), karena ternyata sedikit sekali guru yang mau sholat jama’ah, apalagi memberikan contoh untuk bersegera jama’ah ke masjid, bahkan ada yang terkesan menacari-cari kesibukan agar terhindar dari memberikan contoh kepada siswa.

Sungguh berat memang tugas seorang guru, harus menjadi manusia seutuhnya “super” karena selain sebagai pengajar yang bertugas mentransfer pengetahuan, guru juga dituntut untuk harus menjadi panutan moral dan karakter bagi peserta didiknya. Itulah konsekuensi menjadi guru. Satu hal yang perlu ditegaskan sekali lagi, bahwa siswa itu juga manusia yang memiliki, mata, telinga, pikiran dan hati, yang bisa untuk menilai pribadi dan karakter seorang guru. Jadi, SIAPkah KITA MENJADI SEORANG GURU ?

 




Write a Facebook Comment

Komentar dari Facebook

View all comments

Write a comment